Kalau konon hari jum'at itu adalah hari yang baik,
bagi Senja, 2 tahun lalu hari jum'at di bulan awal bulan Agustus itu adalah hari terburuk kedua setelah hari terburuk pertama yaitu ketika ayah Senja meninggal dunia.
Hari itu entah kenapa banyak hal aneh yang terjadi menurut Senja, dimana dari pagi koneksi internet kantornya bermasalah, dan diruangannya di lantai 2, sinyal selular pun sama sekali tak ada, Senja harus turun ke bawah dan keluar halaman untuk mendapatkan sinyal yang tak seberapa kuat.
Tapi pekerjaan Senja hari itu sangat banyak sampai-sampai pergi ke toilet pun rasanya seperti buang-buang waktu, apalagi untuk turun ke bawah.
Seharian rasanya gusar, gelisah, entah kenapa , Senja pun bingung.
------------------------------------------------------------------------------------------
Akhirnya waktu istirahat tiba, ada waktu sedikit untuk Senja turun dan pergi makan siang. Begitu turun ke lantai bawah notifikasi di handphone langsung berbunyi , bukan hanya sekali dua kali, sepuluh atau berpuluh-puluh kali notifikasi pesan dari ibunya. Merasakan ada kejanggalan yang sedang terjadi, tak lama Senja membaca semua pesan dari ibunya
" Rega kabur dari rumah lewat jendela, waktu ibu tadi lagi nemenin Ranu tidur. "
Sebuah pesan yang rasanya seperti hanya mimpi, kemudian Senja mencoba menelepon ibunya meminta kejelasan, Senja masih berharap itu hanya gurauan saja.
" Kabur gimana ?"
" Kabur lewat jendela mungkin , karena dari pagi dia memang sudah mondar-mandir kaya lihat situasi. Dari pagi kaya sudah siapin dan ambil barang-barang "
Seketika badan Senja lemas, tersungkur, dan menangis sejadi-jadinya, tak perduli sebarapa banyak orang yang melihat, mencoba mendekat, dan bertanya kenapa. Senja hanya dapat menangis tak berkata-kata, hanya sakit dan sesak nafas yang dirasa. Sakit yang rasanya masih jelas sekali sampai detik ini Senja sedang bercerita kepadaku.
Tak lama kemudian Senja meraih kunci kedaraannya, dan meminta ijin untuk pulang lebih cepat. Dalam perjalanan tak lupa Senja menelepon kakaknya untuk meminta bantuan.
" Halo mas, Rega kabur dari rumah. Ini aku mau ke stasiun , kamu tolong coba ke terminal ya mas, siapa tau belum jauh."
Pikirannya tak terkendali, sampai-sampai Senja bingung jalan menuju ke stasiun satu dna stasiun dua. Beberapa kali lampu merah dia terjang karena Senja bahkan lupa kalau merah itu berhenti, kuning itu pelan-pelan dan hijau itu boleh jalan. Senja hilang.
Senja, sedang berlarian di stasiun siang itu, hingga sore, tak ada apapun, Senja sudah seperti orang gila yang menangis kesana kemari menarik perhatian. Samapi kemudian senja menyerah, tidak menemukan apapun kecuali sebuah rasa kehilangan. Senja tergopoh, kemudian terdiam, menerawang jauh, kemudian terpejam. Dadanya sakit sekali.
Entah bagaimana tiba-tiba Senja sudah berada didepan makam batu ayahnya, Senja benar-benar lupa bagimana dia bisa sampai disana, Senja menangis sampai air matanya habis. Kemudian Senja berpamitan dan berjanji akan segera kembali lagi, se segera mungkin, sebelum pergi Senja menuliskan kata perpisahan kepada ibunya bahwa Senja .... ingin mati.
" Aku sudah gila " begitu kata Senja berulang-ulang kepadaku, saat itu Senja benar-benar sudah seperti gila rasanya. Ditinggalkan seorang pria, suaminya, ayah dari anaknya.
" Selama ini aku selalu memenuhi apapun yang dia mau. Dia mau naik gunung, dia mau pergi ke pantai, dia mau diving , dia mau snorkling, dia mau pergi kemanapun, aku iyakan, asal kembali tepat waktu dan hanya weekend saja. Dia mau beli ini dia mau beli itu. Aku bekerja sangat keras sampai aku lupa rasa lelah itu seperti apa. Aku cuma mau dia membalasnya dengan tetap tinggal bersamaku dan anakku, menjaga dia sampai dia besar, karena aku harus bekerja, untuk menghidupi dia, Ranu, dan ibuku. "
Senja, behentilah bercerita ketika itu menyakitkan, yakinku.
" Aku tidak mau menyuruh dia bekerja, karena dia memang tidak mau bekerja kecuali keinginan dia sendiri. Kakakku pernah menawari dia berlayar, tapi berakhiran dengan dia marah kepadaku dan menyuruhku bilang kepada kakakku untuk tidak menawari pekerjaan kepadanya. Kemudian aku marah dengan kakakku. Aku menyesal. Betapa aku sudah sangat dzalim dengan keluargaku sendiri saat itu "
------------------------------------------------------------------------------------
Tapi kemudian sekarang Senja berfikir, kemarin, 2 tahun lalu, Allah sedang membantu Senja meringakan bebannya, membantu Senja untuk tidak bekerja sangat keras sehingga bisa menghabiskan waktu lebih dengan Ranu.
2 tahun lalu, Allah sedang menguatkan Senja itu tidak mudah tenggelam dan menghilang, mengembalikan Senja ke lintasan yang benar. Allah menyayangi Senja dengan begitu dalam.
" Ranu mungkin tidak akan tumbuh menjadi figur yang baik ketika dia dibesarkan bukan dengan orang yang baik. Untuk kali ini aku sangat berharap buah jatuh sangat jauh dari pohonnya. Setiap malam aku meminta maaf kepada Ranu dalam doa-ku, maaf karena sudah melibatkan Ranu dalam kesusah dan kepayahanku. Aku berharap diluar sana akan banyak yang mencintai Ranu dengan baik. "
Luka Senja memang susah disembuhkan, dia sedang berproses, masih sering kali menangis ketika ingat, betapa kejadian jumat kelabu itu sangat membekas di kehidupannya, bukan berarti dia tidak move on, tapi memang sesusah itu rasanya melupakan lukanya. Senja masih terus berusaha.
Aku selalu meyakinkannya, Senja tidak selamanya akan tenggelam.
----------------------------
Surakarta, 26 Juli 2018
Sampai jumpa di Cerita Kala Senja #3 Keputusan Besar
Senja, behentilah bercerita ketika itu menyakitkan, yakinku.
" Aku tidak mau menyuruh dia bekerja, karena dia memang tidak mau bekerja kecuali keinginan dia sendiri. Kakakku pernah menawari dia berlayar, tapi berakhiran dengan dia marah kepadaku dan menyuruhku bilang kepada kakakku untuk tidak menawari pekerjaan kepadanya. Kemudian aku marah dengan kakakku. Aku menyesal. Betapa aku sudah sangat dzalim dengan keluargaku sendiri saat itu "
------------------------------------------------------------------------------------
Tapi kemudian sekarang Senja berfikir, kemarin, 2 tahun lalu, Allah sedang membantu Senja meringakan bebannya, membantu Senja untuk tidak bekerja sangat keras sehingga bisa menghabiskan waktu lebih dengan Ranu.
2 tahun lalu, Allah sedang menguatkan Senja itu tidak mudah tenggelam dan menghilang, mengembalikan Senja ke lintasan yang benar. Allah menyayangi Senja dengan begitu dalam.
" Ranu mungkin tidak akan tumbuh menjadi figur yang baik ketika dia dibesarkan bukan dengan orang yang baik. Untuk kali ini aku sangat berharap buah jatuh sangat jauh dari pohonnya. Setiap malam aku meminta maaf kepada Ranu dalam doa-ku, maaf karena sudah melibatkan Ranu dalam kesusah dan kepayahanku. Aku berharap diluar sana akan banyak yang mencintai Ranu dengan baik. "
Luka Senja memang susah disembuhkan, dia sedang berproses, masih sering kali menangis ketika ingat, betapa kejadian jumat kelabu itu sangat membekas di kehidupannya, bukan berarti dia tidak move on, tapi memang sesusah itu rasanya melupakan lukanya. Senja masih terus berusaha.
Aku selalu meyakinkannya, Senja tidak selamanya akan tenggelam.
----------------------------
Surakarta, 26 Juli 2018
Sampai jumpa di Cerita Kala Senja #3 Keputusan Besar
No comments:
Post a Comment