Wednesday, 25 July 2018

Cerita Kala Senja #2 Hari Jum'at Kelabu

Kalau konon hari jum'at itu adalah hari yang baik,
bagi Senja, 2 tahun lalu hari jum'at di bulan awal bulan Agustus itu adalah hari terburuk kedua setelah hari terburuk pertama yaitu ketika ayah Senja meninggal dunia.

Hari itu entah kenapa banyak hal aneh yang terjadi menurut Senja, dimana dari pagi koneksi internet kantornya bermasalah, dan diruangannya di lantai 2, sinyal selular pun sama sekali tak ada, Senja harus turun ke bawah dan keluar halaman untuk mendapatkan sinyal yang tak seberapa kuat.
Tapi pekerjaan Senja hari itu sangat banyak sampai-sampai pergi ke toilet pun rasanya seperti buang-buang waktu, apalagi untuk turun ke bawah.

Seharian rasanya gusar, gelisah, entah kenapa , Senja pun bingung.

------------------------------------------------------------------------------------------

Akhirnya waktu istirahat tiba, ada waktu sedikit untuk Senja turun dan pergi makan siang. Begitu turun ke lantai bawah notifikasi di handphone langsung berbunyi , bukan hanya sekali dua kali, sepuluh atau berpuluh-puluh kali notifikasi pesan dari ibunya. Merasakan ada kejanggalan yang sedang terjadi, tak lama Senja membaca semua pesan dari ibunya 

" Rega kabur dari rumah lewat jendela, waktu ibu tadi lagi nemenin Ranu tidur. "

Sebuah pesan yang rasanya seperti hanya mimpi, kemudian Senja mencoba menelepon ibunya meminta kejelasan, Senja masih berharap itu hanya gurauan saja.

" Kabur gimana ?"

" Kabur lewat jendela mungkin , karena dari pagi dia memang sudah mondar-mandir kaya lihat situasi. Dari pagi kaya sudah siapin dan ambil barang-barang "

Seketika badan Senja lemas, tersungkur, dan menangis sejadi-jadinya, tak perduli sebarapa banyak orang yang melihat, mencoba mendekat, dan bertanya kenapa. Senja hanya dapat menangis tak berkata-kata, hanya sakit dan sesak nafas yang dirasa. Sakit yang rasanya masih jelas sekali sampai detik ini Senja sedang bercerita kepadaku. 

Tak lama kemudian Senja meraih kunci kedaraannya, dan meminta ijin untuk pulang lebih cepat. Dalam perjalanan tak lupa Senja menelepon kakaknya untuk meminta bantuan.

" Halo mas, Rega kabur dari rumah. Ini aku mau ke stasiun , kamu tolong coba ke terminal ya mas, siapa tau belum jauh."

Pikirannya tak terkendali, sampai-sampai Senja bingung jalan menuju ke stasiun satu dna stasiun dua. Beberapa kali lampu merah dia terjang karena Senja bahkan lupa kalau merah itu berhenti, kuning itu pelan-pelan dan hijau itu boleh jalan. Senja hilang.

Senja, sedang berlarian di stasiun siang itu, hingga sore, tak ada apapun, Senja sudah seperti orang gila yang menangis kesana kemari menarik perhatian. Samapi kemudian senja menyerah, tidak menemukan apapun kecuali sebuah rasa kehilangan. Senja tergopoh, kemudian terdiam, menerawang jauh, kemudian terpejam. Dadanya sakit sekali. 

Entah bagaimana tiba-tiba Senja sudah berada didepan makam batu ayahnya, Senja benar-benar lupa bagimana dia bisa sampai disana, Senja menangis sampai air matanya habis. Kemudian Senja berpamitan dan berjanji akan segera kembali lagi, se segera mungkin, sebelum pergi Senja menuliskan kata perpisahan kepada ibunya bahwa Senja .... ingin mati.

" Aku sudah gila " begitu kata Senja berulang-ulang kepadaku, saat itu Senja benar-benar sudah seperti gila rasanya. Ditinggalkan seorang pria, suaminya, ayah dari anaknya. 

" Selama ini aku selalu memenuhi apapun yang dia mau. Dia mau naik gunung, dia mau pergi ke pantai, dia mau diving , dia mau snorkling, dia mau pergi kemanapun, aku iyakan, asal kembali tepat waktu dan hanya weekend saja. Dia mau beli ini dia mau beli itu. Aku bekerja sangat keras sampai aku lupa rasa lelah itu seperti apa. Aku cuma mau dia membalasnya dengan tetap tinggal bersamaku dan anakku, menjaga dia sampai dia besar, karena aku harus bekerja, untuk menghidupi dia, Ranu, dan ibuku. "

Senja, behentilah bercerita ketika itu menyakitkan, yakinku.

" Aku tidak mau menyuruh dia bekerja, karena dia memang tidak mau bekerja kecuali keinginan dia sendiri. Kakakku pernah menawari dia berlayar, tapi berakhiran dengan dia marah kepadaku dan menyuruhku bilang kepada kakakku untuk tidak menawari pekerjaan kepadanya. Kemudian aku marah dengan kakakku. Aku menyesal. Betapa aku sudah sangat dzalim dengan keluargaku sendiri saat itu "

------------------------------------------------------------------------------------

Tapi kemudian sekarang Senja berfikir, kemarin, 2 tahun lalu, Allah sedang membantu Senja meringakan bebannya, membantu Senja untuk tidak bekerja sangat keras sehingga bisa menghabiskan waktu lebih dengan Ranu.

2 tahun lalu, Allah sedang menguatkan Senja itu tidak mudah tenggelam dan menghilang, mengembalikan Senja ke lintasan yang benar. Allah menyayangi Senja dengan begitu dalam.

" Ranu mungkin tidak akan tumbuh menjadi figur yang baik ketika dia dibesarkan bukan dengan orang yang baik. Untuk kali ini aku sangat berharap buah jatuh sangat jauh dari pohonnya. Setiap malam aku meminta maaf kepada Ranu dalam doa-ku, maaf karena sudah melibatkan Ranu dalam kesusah dan kepayahanku. Aku berharap diluar sana akan banyak yang mencintai Ranu dengan baik. "
Luka Senja memang susah disembuhkan, dia sedang berproses, masih sering kali menangis ketika ingat, betapa kejadian jumat kelabu itu sangat membekas di kehidupannya, bukan berarti dia tidak move on, tapi memang sesusah itu rasanya melupakan lukanya. Senja masih terus berusaha.

Aku selalu meyakinkannya, Senja tidak selamanya akan tenggelam.

----------------------------

Surakarta, 26 Juli 2018
Sampai jumpa di Cerita Kala Senja #3 Keputusan Besar

Friday, 20 July 2018

Cerita Kala Senja #1 Bapak Baik

Setelah 2 tahun akhirnya Senja memberanikan diri untuk bercerita, karena toh selama bertahun-tahun dia belum bisa menyembuhkan luka yang menganga. Bagi Senja yang saat itu berusia 23 Tahun, apa yang terjadi padanya adalah sesuatu yang sudah diluar kepalanya, tidak pernah membayangkan akan terjadi hal seperti itu dikehidupannya, dan dia , tidak bis melakukan apa-apa .

----------------

Hari ini di bus kota yang mengantar Senja ke tempat ia bekerja, Senja kembali teringat dimana sore itu dia sedang berdiri di salah satu jembatan terbesar di kotanya. Sesekali melihat kebawah, tatapannya kosong, matanya sembab, seluruh badannya dingin, seperti tidak ada jiwa, hanya raga. Senja menyadari banyak orang memperhatikannya walau hanya lalu lalang. Tapi Senja tidak peduli, detik itu Senja sudah membulatkan tekad untuk tenggelam dibawah sana.

Beberapa menit kemudian terdengar suara yang sedikit bergetar mengagetkannya , 
" Enek opo mbak neng ngisor kono ? ( Ada apa mbak dibawah sana ? ) ". Senja diam tak bergeming. " Sampean saged nglangi mboten mbak ? ( kamu bisa renang apa ngga mbak ? ) ". Senja mengangguk. 
" yo berarti nek mencolot soko kene durung tentu mati mbak lha saged nglangi. Tapi sanjange tiyang2 teng ngandap katah boyo. ( Ya berarti kalo lompat dari sini belum tentu mati mbak lha bisa berenang. tapi katanya dibawah sana banyak buaya. ) " . Senja menoleh kaget , berfikir bagaimana bapak tua pengayuh becak ini tau apa yang akan Senja lakukan sore itu.

" Kulo dinten niki dereng angsal penumpang, dereng nyekel arta babar blas. teng griyo wonten garwa , kaleh putu kulo, ditinggal bapak ibu ne minggat. Kulo gadahe nggih mung becak mbak. Tapi kulo mboten pernah bosen urip, urip sakmadyone, ikhtiar, tawakal. Gusti niku mboten sare, mboten wuto, mboten sudo rungon. Sing penting kulo niki sampun berusaha kalian berdoa, hambok menowo wonten ingkang maringi kulo sego, putu kulo saget maem, nek kulo kaleh ibu nggih sampun biasa mboten maem, yo ngene iki dadine elek kuru. ( Saya hari ini belum dapat penumpang, belum pegang uang sama sekali, dirumah ada istri saya, dan cucu saya yang ditinggal bapak ibunya kabur. Saya punyanya ya cuma becak mbak. Tapi saya tidak pernah bosan hidup, hidup seadanya, ikhtiar, tawakal. Allah itu tidak buta, tidak tuli. Yang penting saya sudah berusaha dan berdoa, siapa tau ada yang memberi saya nasi, cucu saya bisa makan. Kalau saya sama istri sudah biasa tidak makan, ya jadinya seperti ini jelek kurus ) " .  Dan bapak baik (kita sebut saja dia bapak baik ) masih bisa-bisanya menambahkan sedikit tawa pada akhir ceritanya tentang hari ini.

Senja menangis, Senja malu, Senja seakan lupa bahwa masih banyak orang yang hidupnya jauh lebih merana hari itu, kemarin, dan esok hari mungkin. Senja tau dia sudah sangat jauh dengan Tuhan, itu mungkin kenapa hari ini Tuhan sedang berusaha mengingatkan Senja bahwa Tuhan itu masih baik kepada Senja yang bahkan sudah menjauh dari Tuhan selama ini. 

" Sampun maghrib mbak, daleme pundi ? kulo dereke. ( Sudah Maghrib mbak, rumahnya mana ? saya antarkan .) "

" Kulo parkir teng kampus pak. ( saya parkir di kampus pak ) "  Jawab Senja masih dengan menerawang jauh ke antah berantah. Dilihatnya Si Bapak Baik mulai memutar balik becaknya, dan mempersilahkan Senja untuk naik. Sepanjang perjalanan itu Senja tidak dapat berhenti menangis.

-----------------

" Kulo pamit rumiyin mbak. Mang manthuk nggeh mbak. Sholat, berdoa, eling wong tuwo.  ( Saya pamit dulu ya mbak. Pulang ya mbak. Sholat, berdoa ingat sama orang tua ) "

Apa yang membuat tangis Senja pecah saat itu adalah ketika Senja melihat bapak baik mulai ikut meneteskan air mata. Entah apa yang membuat bapak baik ikut menangis, mungkin beliau ikut meresapi dan menjelajahi apa yang Senja rasakan sore itu. Senja kemudian memberika sedikit rejeki untuk bapak baik namun ditolak awalnya.

" Masalah saya bukan masalah ekonomi Pak. Matur nuwun sudah mengingatkan saya hari ini bahwa masih banyak orang yg jauh dibawah keadaan saya sekarang ini. Beli makan untuk cucu bapak, istri, dan bapak sendiri. Jumlahnya tidak banyak tapi insya Allah cukup. "

Kemudian bapak baik tidak mampu berkata apapun, menerima uang tersebut, menepuk-nepuk pundak Senja, dan menangis. Bapak Baik tidak pergi sebelum Senja pergi, katanya dia mau melihat anaknya pulang, Bapak Baik orang asing yang menyapa Senja sore tadi menganggap Senja adalah anaknya. 

-------------------

Mungkin hari itu Senja memang ditinggal pergi suaminya diam-diam, tapi mungkin dihari itu juga Tuhan sudah mempersiapkan cerita baru untuk Senja esok hari. Mungkin ini cara Tuhan membantu Senja untuk meringankan bebannya, walaupun suaminya pergi dengan membawa uang Senja, Senja tau , uang itu bisa dicari lagi nanti.

Kemudian Senja membuka pesan di handphone, pesan yang bertubi-tubi dari ibunya yang khawatir mendengar anaknya berpamitan untuk mati beberapa saat yang lalu. 

" Kalau kamu pergi, gimana Ranu ? Dia pasti cari ibunya. Cuma kamu yang bisa membesarkan Ranu dengan baik. Ibu kandungnya. Kamu ngga kasian ke Ranu ? "

" Pulang nduk. Ibu sayang kamu, Ranu juga sayang kamu. "

Lagi-lagi tangisnya pecah saat itu, dan masih sampai detik ini ketika Senja bercerita tentang hari itu 2 tahun lalu.

------------------

Sesampainya dirumah Senja langsung masuk ke kamarnya, menangis sejadi-jadinya. Rumah malam itu gaduh dan rapuh. Ibu Senja ikut menangis meratapi anaknya yang menangis sujud dilantai dingin itu sambil menggendong Ranu yang menatap pilu ibunya yang tidak ada daya. Kemudian Senja meraih Ranu, memeluknya dan mendekapnya erat, Ranu, bayi berusia 6 bulan, tiba-tiba tau caranya mengusap air mata dari mata ibunya.

-------------------

Ranu, sebegitu indahkah Indonesia, sampai-sampai ayahmu lebih memilih Indonesia daripada anak dan istrinya ? 

-------------------

Saat melihat Ranu, Senja tau apa yang harus dia lakukan sekarang adalah bertahan hidup tanpa menyusahkan ibunya yang janda. Senja yakin uang itu bisa dicari, Senja tidak takut besok makan apa, ibunya makan apa, anaknya makan apa, Allah sudah tentu menjamin rejeki anaknya. Senja mecoba mengikhlaskan uang yang dibawa lari suaminya, walaupun susah, tapi mungkin suaminya lebih membutuhkan untuk mengejar ambisinya berkeliling Indonesia. 

Hari-hari berikutnya sangat pelik bagaimana Senja berusaha untuk menyuruh suaminya pulang, tapi ternyata tidak bisa, Indonesia terlalu indah Senja, dibanding kamu dan anakmu. Terimakasih Senja karena kerja kerasmu setiap hari, suamimu bisa memenuhi ambisinya untuk berkeliling Indonesia, masalah bagaimana kamu hidup dan membiayai kehidupan Ibumu, kamu bisa bekerja lebih keras lagi nanti. 

Ingat Senja ketika kamu dalam kesusahan , apa yang dikatakan Bapak Baik untuk menyelamatkan hidup kamu sebelum tenggelam sore itu.

Ingat Senja, hidup kamu sekarang bukan sendirian, tapi ada Ranu, yang setiap hari akan menunggu Senja pulang dari perjuangannya setiap hari. Ranu yang tidak perduli dengan bau matahari yang melekat di baju ibunya. Ranu butuh kamu Senja.

-------------------------

Surakarta, 21 Juli 2018

Berjumpa lagi di #2 Hari Jum'at Kelabu