Setelah 2 tahun akhirnya Senja memberanikan diri untuk bercerita, karena toh selama bertahun-tahun dia belum bisa menyembuhkan luka yang menganga. Bagi Senja yang saat itu berusia 23 Tahun, apa yang terjadi padanya adalah sesuatu yang sudah diluar kepalanya, tidak pernah membayangkan akan terjadi hal seperti itu dikehidupannya, dan dia , tidak bis melakukan apa-apa .
----------------
Hari ini di bus kota yang mengantar Senja ke tempat ia bekerja, Senja kembali teringat dimana sore itu dia sedang berdiri di salah satu jembatan terbesar di kotanya. Sesekali melihat kebawah, tatapannya kosong, matanya sembab, seluruh badannya dingin, seperti tidak ada jiwa, hanya raga. Senja menyadari banyak orang memperhatikannya walau hanya lalu lalang. Tapi Senja tidak peduli, detik itu Senja sudah membulatkan tekad untuk tenggelam dibawah sana.
Beberapa menit kemudian terdengar suara yang sedikit bergetar mengagetkannya ,
" Enek opo mbak neng ngisor kono ? ( Ada apa mbak dibawah sana ? ) ". Senja diam tak bergeming. " Sampean saged nglangi mboten mbak ? ( kamu bisa renang apa ngga mbak ? ) ". Senja mengangguk.
" yo berarti nek mencolot soko kene durung tentu mati mbak lha saged nglangi. Tapi sanjange tiyang2 teng ngandap katah boyo. ( Ya berarti kalo lompat dari sini belum tentu mati mbak lha bisa berenang. tapi katanya dibawah sana banyak buaya. ) " . Senja menoleh kaget , berfikir bagaimana bapak tua pengayuh becak ini tau apa yang akan Senja lakukan sore itu.
" Kulo dinten niki dereng angsal penumpang, dereng nyekel arta babar blas. teng griyo wonten garwa , kaleh putu kulo, ditinggal bapak ibu ne minggat. Kulo gadahe nggih mung becak mbak. Tapi kulo mboten pernah bosen urip, urip sakmadyone, ikhtiar, tawakal. Gusti niku mboten sare, mboten wuto, mboten sudo rungon. Sing penting kulo niki sampun berusaha kalian berdoa, hambok menowo wonten ingkang maringi kulo sego, putu kulo saget maem, nek kulo kaleh ibu nggih sampun biasa mboten maem, yo ngene iki dadine elek kuru. ( Saya hari ini belum dapat penumpang, belum pegang uang sama sekali, dirumah ada istri saya, dan cucu saya yang ditinggal bapak ibunya kabur. Saya punyanya ya cuma becak mbak. Tapi saya tidak pernah bosan hidup, hidup seadanya, ikhtiar, tawakal. Allah itu tidak buta, tidak tuli. Yang penting saya sudah berusaha dan berdoa, siapa tau ada yang memberi saya nasi, cucu saya bisa makan. Kalau saya sama istri sudah biasa tidak makan, ya jadinya seperti ini jelek kurus ) " . Dan bapak baik (kita sebut saja dia bapak baik ) masih bisa-bisanya menambahkan sedikit tawa pada akhir ceritanya tentang hari ini.
Senja menangis, Senja malu, Senja seakan lupa bahwa masih banyak orang yang hidupnya jauh lebih merana hari itu, kemarin, dan esok hari mungkin. Senja tau dia sudah sangat jauh dengan Tuhan, itu mungkin kenapa hari ini Tuhan sedang berusaha mengingatkan Senja bahwa Tuhan itu masih baik kepada Senja yang bahkan sudah menjauh dari Tuhan selama ini.
" Sampun maghrib mbak, daleme pundi ? kulo dereke. ( Sudah Maghrib mbak, rumahnya mana ? saya antarkan .) "
" Kulo parkir teng kampus pak. ( saya parkir di kampus pak ) " Jawab Senja masih dengan menerawang jauh ke antah berantah. Dilihatnya Si Bapak Baik mulai memutar balik becaknya, dan mempersilahkan Senja untuk naik. Sepanjang perjalanan itu Senja tidak dapat berhenti menangis.
-----------------
" Kulo pamit rumiyin mbak. Mang manthuk nggeh mbak. Sholat, berdoa, eling wong tuwo. ( Saya pamit dulu ya mbak. Pulang ya mbak. Sholat, berdoa ingat sama orang tua ) "
Apa yang membuat tangis Senja pecah saat itu adalah ketika Senja melihat bapak baik mulai ikut meneteskan air mata. Entah apa yang membuat bapak baik ikut menangis, mungkin beliau ikut meresapi dan menjelajahi apa yang Senja rasakan sore itu. Senja kemudian memberika sedikit rejeki untuk bapak baik namun ditolak awalnya.
" Masalah saya bukan masalah ekonomi Pak. Matur nuwun sudah mengingatkan saya hari ini bahwa masih banyak orang yg jauh dibawah keadaan saya sekarang ini. Beli makan untuk cucu bapak, istri, dan bapak sendiri. Jumlahnya tidak banyak tapi insya Allah cukup. "
Kemudian bapak baik tidak mampu berkata apapun, menerima uang tersebut, menepuk-nepuk pundak Senja, dan menangis. Bapak Baik tidak pergi sebelum Senja pergi, katanya dia mau melihat anaknya pulang, Bapak Baik orang asing yang menyapa Senja sore tadi menganggap Senja adalah anaknya.
-------------------
Mungkin hari itu Senja memang ditinggal pergi suaminya diam-diam, tapi mungkin dihari itu juga Tuhan sudah mempersiapkan cerita baru untuk Senja esok hari. Mungkin ini cara Tuhan membantu Senja untuk meringankan bebannya, walaupun suaminya pergi dengan membawa uang Senja, Senja tau , uang itu bisa dicari lagi nanti.
Kemudian Senja membuka pesan di handphone, pesan yang bertubi-tubi dari ibunya yang khawatir mendengar anaknya berpamitan untuk mati beberapa saat yang lalu.
" Kalau kamu pergi, gimana Ranu ? Dia pasti cari ibunya. Cuma kamu yang bisa membesarkan Ranu dengan baik. Ibu kandungnya. Kamu ngga kasian ke Ranu ? "
" Pulang nduk. Ibu sayang kamu, Ranu juga sayang kamu. "
Lagi-lagi tangisnya pecah saat itu, dan masih sampai detik ini ketika Senja bercerita tentang hari itu 2 tahun lalu.
------------------
Sesampainya dirumah Senja langsung masuk ke kamarnya, menangis sejadi-jadinya. Rumah malam itu gaduh dan rapuh. Ibu Senja ikut menangis meratapi anaknya yang menangis sujud dilantai dingin itu sambil menggendong Ranu yang menatap pilu ibunya yang tidak ada daya. Kemudian Senja meraih Ranu, memeluknya dan mendekapnya erat, Ranu, bayi berusia 6 bulan, tiba-tiba tau caranya mengusap air mata dari mata ibunya.
-------------------
Ranu, sebegitu indahkah Indonesia, sampai-sampai ayahmu lebih memilih Indonesia daripada anak dan istrinya ?
-------------------
Saat melihat Ranu, Senja tau apa yang harus dia lakukan sekarang adalah bertahan hidup tanpa menyusahkan ibunya yang janda. Senja yakin uang itu bisa dicari, Senja tidak takut besok makan apa, ibunya makan apa, anaknya makan apa, Allah sudah tentu menjamin rejeki anaknya. Senja mecoba mengikhlaskan uang yang dibawa lari suaminya, walaupun susah, tapi mungkin suaminya lebih membutuhkan untuk mengejar ambisinya berkeliling Indonesia.
Hari-hari berikutnya sangat pelik bagaimana Senja berusaha untuk menyuruh suaminya pulang, tapi ternyata tidak bisa, Indonesia terlalu indah Senja, dibanding kamu dan anakmu. Terimakasih Senja karena kerja kerasmu setiap hari, suamimu bisa memenuhi ambisinya untuk berkeliling Indonesia, masalah bagaimana kamu hidup dan membiayai kehidupan Ibumu, kamu bisa bekerja lebih keras lagi nanti.
Ingat Senja ketika kamu dalam kesusahan , apa yang dikatakan Bapak Baik untuk menyelamatkan hidup kamu sebelum tenggelam sore itu.
Ingat Senja, hidup kamu sekarang bukan sendirian, tapi ada Ranu, yang setiap hari akan menunggu Senja pulang dari perjuangannya setiap hari. Ranu yang tidak perduli dengan bau matahari yang melekat di baju ibunya. Ranu butuh kamu Senja.
-------------------------
Surakarta, 21 Juli 2018
Berjumpa lagi di #2 Hari Jum'at Kelabu
No comments:
Post a Comment